Gallery

Funny Today

Waktu dilihat bikin hati deg2an, saat dipegang jadinya makin tegang, habis pegang dikocok makin menegang, akhirnya keluar! Wow! Puas Rasanya! Karena dpt ARISAN!

 

J 100:Jeng Juminten Janda Judes, Jelek Jerawatan, Jari Jempolnya Jorok, Jualan Jamu Jarak Jauh Jakarta Jogja, Jatuh Jumpalitan Juminten Jerit-Jerit Jamu Jamu 77X

 

Jgn KAWIN ama orang TELKOM, tiap 3 menit putus. Apalagi ama DOKTER GIGI abis digoyang langsung dicabut. Mendingan ama GURU, kurang jelas di ulang sampe PUAS

 

Gue kangen bgt ama lu, tiap pulang ke rumah inget lu, tanpa lu hidup gue berantakan. Please, balik ama gue. Gue mohon karena gue bener2 butuh seorang PEMBANTU

 

Sampaikanlah pesan ini kpd 9 orang teman yg kamu anggap goblok: Tenanglah, saya juga barusan menerima pesan ini

 

Saat ini gua lagi butuh pasangan.Gua cowok ROMANTIS (Rokok Makan Gratis) yg bekerja sbg PENGACARA SUKSES (Pengangguran Banyak Acara Yang Suka Sesama)

 

Burung di langit jatohin kotoran ke muka gue, tapi gue ga marah, malah bersyukur. Untung gak ada kebo terbang

 

Kemaren malem gue berbaring di tempat tidur gue sambil menatap bintang di langit, gue ngabayangin, MANA ATAP KAMAR GUE!

 

Saya berdoa “Tuhan, kenapa orang ini masuk neraka? Bukankah dulu dia rajin baca Kitab Suci?” Jawab Tuhan “Kata siapa? Tuh liat, rajinnya baca SMS aja”

 

Kata anak MONYET: Mak, kenapa muka kita kok buruk ya? Mak MONYET menjawab: Bersyukurlah nak, muka kita tidak seburuk yang baca SMS ini

Advertisements
Gallery

Dongeng Penunggu Surau

Adzan menyilet. Menyapa pintu-pintu. Menembus daun trembesi, ladang, lembah-lembah, orang-orang sibuk. Dan para petani itu. Perempuan-perempuan di kali, penyabit rumput, menyusui anak. Adamatahari terik. Adalesung ditalu, bertalu-talu; suara paku dipalu pertanda kerja, sapi-sapi dihalu para gembala. Tertawa. Gembira.

??Gusti,? Muadzin Ali mendehem. Menatap Imam Mathori takjub, memandang jendela. Menunggu sesuatu.?Tak ada yang datang. Apakah speaker di surau ini kurang keras memanggil mereka, Ali??
?Musim tanam selalu membuat seluruh kampung sibuk. Seperti biasa. Lelaki dan perempuan. Bahkan anak-anak. Jangankan surau, bahkan sekolah selalu kosong. Maaf, Guru Brojol yang menceritakan hal itu kemarin sore.?? jawab Ali.

Jadi sunyi. Lalu Imam Mathori terpaksa tertawa, lantas murung. Ada gurat tak jelas ketika ia meludahkan dahak keras keluar jendela, ?Bahkan tak ada waktu untuk Tuhan. Begitu katanya??
Muadzin Ali mengangguk, tersentak.?Barangkali musim panen mereka akan ingat. Kita hanya bisa berharap, bukan begitu??

?Selalu,? Imam Mathori mengusap muka, menegaskan, ?Adzan sekali lagi, Ali! Waktu sudah hampir habis??

Suara Ali memanggil, suara adzan menembus atap menyayat dan berirama. Kembali lantang. Menuju lembah, sawah, menyeruak rumah-rumah, jendela-jendela: menyapa orang-orang yang tetap sibuk bekerja. Anak-anak ribut-riuh berkeliaran tanpa dosa di pematang. Perempuan-perempuan bebal menenteng rantang makanan suami, ayah, buyut, saudara. Orang hidup harus kerja. Harus makan. Lenguh sapi dipanggang matahari, menapak kaki-kaki basah di tanah, penuh lumpuh, harapan, penuh nyanyian, gairah hidup.

Makan! Hidup!
Sedang Imam Mathori berdiri sunyi di mimbar menyampaikan khotbah Jumat dengan setumpuk kisah tentang dosa. Tentang dunia, akherat dan neraka. Tak ada yang mendengar. Hanya Ali lantas dua orang lelaki udzur tertatih datang di pintu masuk:? Dialah Lebai Otok Sukatno Gendut dan? Wak Haji Besut. Hanya itu. Dua jamaah tua paling rajin, yang berobat pada beberapa bulan terakhir, tetapi nyaris selalu datang di surau paling akhir. Tak apa. Khusnul khatimah lebih baik, begitu agama ini mengajarkan. Pelan-pelan. Tak ada pilihan, bukankah begitu? Ini bukan jaman khalifah Umar, juga tidak hidup di cengkraman dua belas Imam kewibawaan Khomaeni. Bahkan Imam Mathori berkali menyeru, gagal, tak bisa memaksa. Setiap manusia punya pilihan sendiri, Tuhan tak akan merubah suatu kaum tanpa di berkehendak. Jadi tak apa. Begitu. Imam Mathori jadi sedih.

Khotbah diakhiri, menantang langit-langit, menutup mulut lewat doa: ?Kita berdoa untuk saudara-saudara kita. Amin??

Sembahyang wajib dua rakaat. Sunyi. Di luar cangkul-cangkul masih didentangkan, pecut sapi-sapi berteriak minta dirumputkan. Keringat tumpah. Tertawa, bekerja, dan bernyanyi. Jam satu siang memandang angkasa. Saatnya perut manusia diisi tiwul, gaplek, nasi. Wajib. Manusia pasti mati jika tak makan. Demi Tuhan! Para perempuan itu, para lelaki, anak-anak mengunyah-mengunyah mulut. Berkeciplak-keciplak. Bersama-sama sapi, tentu. Kambing itu. Ayam-ayam kapung. Juga bebek. Tikus, ular sawah. Sedang Tuhan, dimanakah Tuhan? Lalu apa bedanya kambing, sapi bebk, ayam, tikus-kecoak: dan mereka.Tak usah peduli.
***
Empat bulan Gusti Allah dengan mudah menumbuhkan biji yang ditebar dengan menganugerahkan air, angin, matahari dan tanah; mengatur kesuburan hingga aroma padi kuning dalam keharuman membentang. Saat panen tiba. Empat bulan orang-orang kampong letih menunggu. Datang pagi banting tulang, pulang tidur mengangkang. Ngorok. Dan sebagian bikin anak. Selalu begitu. Dan Muadzin Ali, pada saat semacam itu, terlihat bercahaya di muka surau. Yaitu pada Jumat ke sekian, entah. Di tepi Rumah Tuhan yang selalu sepi. Menunggu jamaah. Seperti biasa.

?Lihatlah, Tuhan begitu baik melimpahkan keberuntungan. Panen raya! Padi-padi gembrot, padi harum, padi mentiung, di tanah subur!? Muadzin Ali berteriak, menyalami Imam Mathori yang datang kemudian. Keduanya tersenyum, haru. Menatap lembah, jauh berkelok, samping ke ujung kampung. Dan angin yang silir. Betapa tentram.

?Kalau begitu, panggilah mereka, Ali. Hari Jumat, saatnya sembahyang,? Imam Mathori menukas.
?Mereka harus bersyukur. Wajib bersyukur. Adzanlah dengan baik, seperti Bilal di zaman Rasulullah. Segera Ali! Aku sudah tak sabar melihat surau ini penuh. Ratusan jamaah! Keraskan volume speaker sampai habis. Mudah-mudahan kali ini mereka tergerak. Toh panen raya telah tiba.? Panen yang subur, di tanah yang gembur, pada rezeki mereka yang makmur! Ya Allah.?
Berjingkat Muadzin Ali berbenah.

Seperhentak kemudian suaranya lantang menyilet langit. Memekik. Gemetar ia dalam syukur dan takzim. Sedang Imam Mathori tetap berdiri di pintu. Dari jauh, lamat langkah dua orang tertatih-tatih masuk: Lebai Otok Sukatno Gendut dan? Wak Haji Besut.

?Alhamdulillah, ke marilah! Dua hamba Allah. Kalian orang yang pertama memenuhi panggilan muadzin. Beruntunglah. Hei di mana yang lain?? Muadzin Ali lelah melongok. Berkali-kali. Satu jam. Waktu merayap dan surau tetap sepi. Imam Mathori bangkit, bosan, sedang Lebai Otok Sukatno Gendut berzikir. Terlihat Wak Haji Besut sembahyang sunnah. Khsyuk. Wajahnya bening.

?Gusti,? Imam Mathori menuding, ?Kau lihat di pintu, Ali! Aku mendengar suara ribut orang di luar. Barangkali mereka yang datang. Tuhan Maha Besar!?Benar, orang-orang ribut. Dari rumah-rumah, di jalan-jalan. Para lelaki, perempuan, anak-anak. Dengan langkah tergesa berduyun-duyun. Menyongsong langkah, di depan surau! Bersorak-sorak: menyanyi. Cangkul-cangkul, sabit, bakul, keranjang, bahkan gerobak. Ya Tuhan,

?Ke marilah saudara! Datanglah ke mari. Bersyukurlah di Rumah Tuhan. Kalian?? Terhenti berkoar Muadzin Ali melongo. Ajaib. Apakah itu? Heh!! Cangkul-cangkul, sabit, keranjang, bahkan gerobak. Astaga! Wajah berkerut suci ternganga, ?Ke marilah! Dia berteriak memanggil Imam. Terbadai. ?Serombongan orang-orang ramai berangkat, berhamburan menuju ke sawah! Mereka tidak hendak ke masjid. Surau milik Tuhan. Tapi mereka hendak bekerja, menuai padi. Ya Allah?? katanya letih.

Tak ada musim panen tak ada tanam. Semua sama. Orang-orang begitu sibuk. Tak pernah behenti. Wajah Imam Mathori tiba-tiba berubah jadi bening, ikhlas:? ?Allah kelak akan menutup pintu kasih sayang. Mencabut ilmu. Engaku tahu, Ali, sekaranglah tanda-tanda itu telah dimulai. Apakah artinya? Kini aku ganti bertanya: setelah kita berempat mati, siapakah yang rela berpayah memanggil mereka untuk datang ke surau, Ali? Mengajari anak-anak mereka mengaji. Jawablah.?
?Tak ada ilmu agama, Kiai? Tentu tak perlu bunuh Tuhan. Dengan bengis. Karena yakin hidup ini abadi. Tak akan mati.?

?Bagus! Nah, sekarang tutup pintu surau. Adzanlah sekeras mungkin, seperti Bilal di zaman Rasulullah. Dan percayalah, sekarang pulalah tanda-tanda yang lebih menegaskan itu mulai diperlihatkan, tentu, hanya bagi orang-orang percaya: bahwa Allah, dengan ketegasan-Nya menutup rapat-rapat setiap telinga sehingga betul-betul tuli. Bukankah begitu Ali??
Ali diam. Tersedak. Sunyi.
Kemudian suara adzab melengking seperti terompet Israfil. Pekak. Malamnya, runtuhan petir membelah langit.*** ?

 

Gallery

Calon Mertua

Aku berlebihan? Tidak! Sama sekali tidak! Kamu keliru. Kamu tidak mengerti. Siapa pun, jika menghadapi situasi seperti yang kuhadapi sekarang ini, pasti sama. Pasti tidak beda. Tak terkecuali kamu. Bahkan mungkin semua lelaki. Ya, semua laki-laki dalam perjalanan hidupnya pasti mesti melewati situasi seperti aku alami saat ini. Gelisah. Gugup. Bingung. Takut. Tak percaya diri. Tidak enak makan, tak enak minum. Susah tidur. Ah, pokoknya macam-macam. Berbagai perasaan campur aduk. Semua tumpek blek. Hanya gara-gara urusan perempuan!

Kamu belum mengalami. Coba kamu punya cewek! Lagian, ngapain ngejomlo terus? Apa enaknya sih? Tapi pada saatnya aku yakin kamu pasti kepincut sama seseorang. Entah cewek kece atau biasa-biasa saja. Kamu laki-laki normal toh? Ah, ya! Aku yakin kamu normal. Bukankah kamu pernah bilang bahwa gairahmu bangkit berkobar setiap kali melihat aurat cewek yang diobral-obral ataupun sekadar tersibak? Bahkan kamu juga mengaku suka greng saban kali melihat belahan dada cewek muda dan segar — siapa pun itu! Nah, itu tanda kamu laki-laki normal dan sudah dewasa.

Jadi, mestinya kamu sudah punya cewek. Entah serius entah tidak, seharusnya kamu sudah punya pacar. Dengan demikian, kamu tak akan serta-merta menilai berlebihan situasi hatiku saat ini. Terlebih kalau kamu juga sudah pacaran lama seperti aku sama Mawar, kamu pasti bisa memahami posisiku sekarang.

Yeahhh, mestinya kamu mengerti bahwa ini tidak main-main. Ini pasti serius. Ini pasti menentukan kelanjutan hubunganku dengan Mawar. Coba, buat apa bapaknya tiba-tiba memintaku datang ke rumahnya? Tidak sari-sarinya! Asal kamu tahu, dia — bapaknya Mawar — selama ini tak pernah memberi hati padaku. Belum pernah sekali pun dia bersikap ramah. Selalu pasang tampang kecut. Serem. Seulas senyum pun tak pernah dia perlihatkan. Beberapa kali aku main ke rumahnya — ngapelin Mawar, maksudku — dia selalu bersikap dingin. Kayak gangster di film-film mafia itu lho. Jangankan menegur atau apalagi mengajak ngobrol, bahkan sekadar ucapan salamku saja tak pernah dia jawab, kecuali dengan dengusan pendek dan sumbang: “hmmm”. Padahal sebagai Muslim, mestinya dia mengerti. Ucapan assalamualaikum wajib dijawab secara patut. Bukan dengan dengusan kayak kebo kebelet.

Boleh jadi, itu sikap angkuh seorang yang sukses dan kaya menghadapi pemuda kere macam aku. Sebagai pimpinan sebuah bank papan atas di negeri ini, mungkin dia tak rela hati anak gadisnya kupacari. Jadi, amat wajar dia kelihatan tidak suka terhadapku. Apalagi tampangku tidak keren kayak aktor Nicholas Saputra, sementara wajah Mawar memang cakep. Kamu sendiri bilang, Mawar mirip Dian Sastro dengan bodi semampai macam Luna Maya (padahal menurutku, Mawar lebih mirip penyanyi kesukaanmu, Mulan Kwok).

Jadi, ketika beberapa hari lalu Mawar bilang bahwa bapaknya memintaku datang menemuinya, terang saja aku jadi galau. Aku langsung sudah bisa meraba maksudnya. Tapi tak urung aku bertanya juga pada Mawar. “Ngapain?”
“Tidak tahu. Ayah cuma bilang, dia ingin bicara sama Abang.”
“Soal apa?”
Mawar mengangkat bahu. “Mungkin soal kita, Bang.”
“Maksud kamu?”
“Ya, soal hubungan kita.”
“Hubungan kita bagaimana?”
“Tidak tahu. Aku juga tidak mengerti, Bang.”

* * *

Coba, menurut kamu soal apa yang mendorong bapaknya Mawar merasa perlu memintaku datang untuk berbicara dengannya? Kamu setuju perkiraan Mawar? Ya, ya aku juga setuju. Pasti soal hubunganku dengan Mawar. Ya, soal apa lagi? Hanya soal satu itu yang masuk akal. Lain tidak!

Tapi maksud orang tua itu bagaimana? Apa yang dia inginkan? Memintaku agar menjauhi Mawar? Harus berhenti memacarinya? Bubar jalan? Tidak boleh datang-datang lagi ngapelin anak gadisnya?

Boleh jadi! Dia juga mungkin ingin mengata-ngatai aku sebagai pemuda tak tahu diri. Tidak ngaca. Tidak pantas bermimpi menjadi calon menantunya! Mungkin pula dia ingin mengatakan bahwa aku pemuda bebal. Geblek. Tidak mengerti bahasa tubuh yang dia perlihatkan. Bagi dia, barangkali, mestinya aku mengerti bahwa sikapnya yang tidak ramah, tampang selalu ditekuk kecut, dan sama sekali tak pernah sudi menyapa adalah pertanda dia tak merestui hubunganku dengan Mawar. Kamu setuju?

Tapi apa benar itu karena aku di matanya tidak punya masa depan, sehingga aku dianggap tak layak menjadi calon pendamping Mawar? Ah, masa sih statusku sebagai mahasiswa ekonomi di perguruan tinggi paling bergengsi di Jakarta ini sedikit pun tak memberi kesan padanya bahwa masa depanku tak suram-suram amat? Mestinya dia mengerti bahwa status itu menunjukkan kecil sekali kemungkinan aku kelak jadi gembel. Bahwa kini aku hidup di rantau dengan kondisi serba pas-pasan, itu bukan berarti kehidupanku di masa depan tak layak diperhitungkan. Bukan begitu, kawan?

Atau, jangan-jangan dia mengira Mawar sudah hamil? Ah, naudzubillah! Mustahil! Mungkin kamu tak percaya, aku tak sehina itu. Aku tahu batas. Aku masih bisa mengendalikan diri dalam berhubungan dengan perempuan. Ciuman sih iya. Juga sedikit-sedikit gerayangan, kalau ada kesempatan. Tapi kukira itu masih wajar-wajar saja. Namanya juga orang pacaran. Masak ngobrol melulu setiap kali ketemu. Ciuman atau rabaan, dalam saat-saat tertentu, sungguh tak terhindarkan. Sungguh! Apalagi kalau Mawar sudah memberi isyarat mau ngasih sun. Apa? Berlagak alim? Wah, bisa-bisa aku dibilang bego. Nanti deh kamu mengalami sendiri. Makanya jangan keasyikan ngejomblo terus, kawan!

Tapi apa mungkin bapaknya mengira Mawar sudah hamil? Ah, ya! Mungkin. Itu sangat mungkin. Bisa saja Mawar mengaku-ngaku sudah kuapa-apakan! Sori, aku tak pernah cerita padamu. Mawar pernah bilang akan mengaku hamil andai bapaknya memarahi dan melarangnya berhubungan denganku. Dia mengaku tidak takut melakukan itu. Karena dia tak mau pisah denganku. Dia tak sudi hubungan asmaranya denganku dihancurkan orang lain, termasuk oleh bapaknya sendiri.

Jadi, dengan mengaku hamil, Mawar yakin bapaknya jadi skak-ster. Dengan demikian, bapaknya tak bisa semena-mena membubarkan hubungan cinta kami. Pikir Mawar, kalau sudah tahu anak gadisnya hamil, bapaknya tidak mungkin sampai memaksa dia bubaran denganku. Bapaknya tak akan rela Mawar melahirkan tanpa ada laki-laki yang bertanggung jawab telah menghamilinya. Mawar yakin, bapaknya tak bakal sanggup menanggung malu andai cucunya lahir sebagai bayi haram jadah.

Ya, ya, ya. Tampaknya memang begitu. Ini skenario Mawar. Supaya bapaknya tidak memaksa bubar hubungannya denganku. Tapi justru itu, bapaknya kini jadi berang. Murka. Pantas saja dia memintaku datang menemuinya. Jelas bukan sekadar untuk diajak bicara, seperti kata Mawar. Aku pasti dimaki habis. Sumpah serapah pasti tumpah ruah. Bahkan nama-nama penghuni kebun binatang mungkin dia muntahkan semua.

Itu yang membuatku kini galau tak karuan. Haruskah aku tak menggubris permintaan agar menemuinya? Toh sudah jelas bahwa kemungkinan besar aku diminta datang sekadar untuk dimurkai.

Menurut kamu bagaimana? Mestikah aku diam saja ketika dimaki habis kayak kecoa dilumat ujung kaki, sementara aku tak bersalah sebagaimana dia tuduhkan? Haruskah aku cuma tertunduk pasrah menerima vonis bahwa aku telah menghamili Mawar? Lalu di mana harga diriku sebagai laki-laki? Atau haruskah aku buka kartu bahwa itu cuma bualan Mawar?

** *

Oke, apa pun yang terjadi, aku penuhi permintaan bapaknya Mawar. Aku datangi dia. Sebagai laki-laki, aku tak boleh miris. Harus percaya diri. Aku harus berani menghadapi tantangan sesulit apa pun. Kamu tahu, itu prinsip yang sejak kecil diajarkan kedua orangtuaku. Apalagi risiko yang kuhadapi kecil kemungkinan membuatku masuk kubur. Atau digotong ke rumah sakit. Cuma dimaki-maki kok! Kalau aku bisa tahan diperlakukan bak kecoak atau tikus got, berarti aku bisa menaklukkan tantangan. Selebihnya, mungkin aku diminta segera menikahi Mawar. Ah, itu soal nanti.

Tetapi kalau tak tahan dimaki secara hina, aku mungkin berontak. Tak diam saja. Bagaimana bentuk pemberontakanku, sulit kubayangkan saat ini. Sangat tergantung situasi dan kondisi nanti. Namun aku berharap itu tak melebihi batas kepatutan. Tak membuatku menjadi seorang yang kurang ajar.

Bahwa itu berisiko membuat hubungan cintaku dengan Mawar jadi terganggu atau bahkan berantakan, apa boleh buat. Namun semoga saja Mawar bisa mengerti. Bahwa skenario atau rencana tak senantiasa terlaksana mulus. Selalu ada risiko di luar perkiraan.

* * *

Tak urung aku deg-degan juga ketika Mawar membawaku ke ruang tamu. Batinku galau. Mereka-reka apa yang akan terjadi. Kamu bisa bayangkan, tak lama lagi aku berhadapan dengan singa murka. Niscaya aku langsung dicabik-cabik tanpa ampun.

Hatiku makin kecut ketika singa tua itu muncul di hadapanku. Terlebih setelah Mawar menghilang ke ruang dalam dan tak muncul-muncul lagi. Membiarkan aku berdua dengan singa tua di ruangan itu.

Seperti biasa, sikap singa tua itu dingin. Sama sekali tanpa keramahan. Matanya tajam menatapku. Penuh selidik. Lama sekali kurasa. Aku tak peduli. Aku siap diterkam dan dicabik-cabik.

“Kuharap kamu tak tersinggung,” katanya kemudian. Suaranya dalam dan berat. Mungkin disengaja agar terkesan berwibawa.

Omongan selanjutnya orang tua itu sama sekali di luar dugaan. Membuatku ternganga. Tapi juga melegakan. “Aku tak peduli siapa kamu. Faktor bebet dan bibit bukan masalah. Faktor bobot juga bukan soal teramat penting. Begitu pula soal materi.

Bagiku, siapa pun yang menjadi calon pendamping hidup putriku harus paham agama. Dia juga harus bisa mengaji, rajin shalat dan puasa, juga pandai memimpin doa. Ini tak bisa ditawar-tawar lagi. Ini syarat mutlak. Aku hanya butuh calon menantu yang memenuhi syarat-syarat itu. Lain tidak. Sederhana saja. Karena aku, juga anak istriku, perlu imam. Kami butuh orang yang setiap saat bisa menegur dan membimbing kami ke arah ridla-Nya. Jujur saja, selama ini kami buta soal agama. Jiwa kami gersang. Karena itu, kami amat butuh imam…”***

Gallery

Well Spoken

Diambil dari footer salah satu buku agenda harian yang pernah aku baca.

  • To be wrong is nothing, unless you continue to remember it.
  • Tick to your point of view, in order to keep up your own dignity.
  • Success it to get whatever you want, happiness is to love whatever you got.
  • Time lost cannot found again.
  • God always answer our prayers, but sometimes the answer is no.
  • Our wisdom comes from our experience and our experience comes from our foolishness.
  • Don’t have the pleasure in the misfortune of other.
  • People can be stronger by eating and wiser by reading.
  • Tokes 20 years to build a good reputation bu needs 2 seconds to ruin it.
  • It’s better to have a plan yet undone, rather than having none at all.
  • Love is the most sacred of all spiritual bonds.
  • One enemy is too many, a hundred friends is too few.
  • Think as one who can act, act as one who can think.
  • A good reputation is one’s greatest asset.
  • Bird need nests, spiders need webs, people need friendships.
  • Anyone can do anything if he believes and yearns for it.
  • Habit makes everything easy.
  • If you can not be a clever person, be a kind person.
  • In trends follow the crowd, in principles stand firm as a rock.
  • The language wounds more than a lance.
  • We all love a good loser if it isn’t us.
  • Women are like firearms, they are dangerous only inexperienced hands.
  • The fear of lord is the beginning of wisdom.
  • It is easy to criticize, but difficult to create.
  • In doing what we ought to do we deserver no praise, because it is our duty.
  • Don’t hold back goodness from those to whom it is owing.
  • Experince people cannot be easily deceived.
  • He that can control himself while achieving victory will gain a double victory.
  • Mock them who laugh first ad they will cry at last.

 

Gallery

Film-film Hollywood

Berikut ini daftar film-film unggulan Hollywood (in Javanese):

1 Enemy at the gates — Musuhe Wis Tekan Gapuro
2 Batman Forever — Ngembat Saklawase
3 Remember the Titans — Kelingan Titan-titan
4 The Italian Job — Gaweane Wong Ngerum
5a Die Hard — Matine Angel
5b Die Hard II — Matine Angel Tenan
5c Die Hard III With A Vengeance — Kowe Kok Ra Mati2 To?
6 Bad Boys — Bocah-bocah Uelek
7 Sleepless in Seattle — Klesikan neng Seattle
8 Lost in Space — Ilang Neng Awang-awang
9 X-Men — Wong Lanang Saru
9a X-Men 2 — Wong Lanang Saru Banget
9b X-Men 3 (Belum dirilis) — Aming
10 Cheaper by Dozen — Tumbas Selusin Langkung Mirah
11 The Cooler — Selot Adem
12 Paycheck — Kasbon
13 Independence Day — Pitulasan
14 The Day After Tomorrow — Sesuke
15 Die Another Day — Modare Ojo Saiki
16 There is Something About Marry — Meri Ono Apa-apane
17 Silence of the Lamb — Wedhuse Mutung
18 All The Pretty Horses — Jarane Ayu2 (aka Legenda Pasar Kewan
Mbahrowo)
19 Planet of the Apes — Planete Wong Apes
20 Gone in Sixty Second — Minggat Sakcepete
21 Original Sin — Dosa Tenanan
22 Mummy Returns — Mami-mami podo Mudik
23 The Abyss — Entek-entekan
24 Copycat — Kopi Kucing (nggo konco Sego Kucing)
25 Seabiscuit — Klethikan Neng Laut
26 Freddy vs Jason — Kerah
27 Terminator — Terminal Montor
28 Air Bud — banyu J**Bud
29 How To Lose A Guy in 10 Days — Piye Carane Megat Lanangan mung 10
Dino
30 Lord Of The Ring — pedagang akik…
31 Deep Impact — Ngantem Njero
32 Million Dollar Baby — Genjik Regone Sayuto
33 Blackhawk Down — Manuk ireng kenek bedhil
34 Saving Private Ryan — Ngelesi privat mas rian (pancene goblok tenan
opo?)
35 Dumb and Dumber — Wong Goblok lan guoooblok tenan

Gallery

Islam Kaffah

Masuklah kedalam Islam secara Kaffah

Al Baqarah 208-209

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( al- Baqarah : 208-209 ).

Inilah seruan kepada kaum mukminin dengan menyebut iman. Yaitu, sifat atau identitas yang paling mereka sukai, yang membedakan mereka dari orang lain dan menjadikan mereka unik serta menghubungkan mereka dengan Allah yang menyeru mereka itu. Seruan kepada orang orang beriman unfuk masuk Islam secara total’ Pemahaman pertama terhadap seruan ini ialah orang-orang mukmin harus menyerahkan diri secara total kepada Allah, dalam urusan yang kecil maupun yg besar. Hendaklah mereka menyerahkan diri dengan  sebenar-benarnya secara keseluruhan, baik mengenai tashawur,’persepsi, pandangan’, pemikiran’ maupun perasaan, niat maupun amal’,kesenangan maupun ketakutan; dengan tunduk dan patuh kepada Allah, dan ridha kepada hukum dan qadha-Nya, tak tersisa sedikit pun dari semua ini untuk selain Allah. Pasrah yang disertai dengan ketaatan yang mantap, tenang, dan ridha. Menyerah kepada tangan (kekuasaan) yang menuntun langkah-langkahnya. Mereka percaya bahwa “tangan” itu menginginkan bagi mereka kebaikan, ketulusan’ dan kelurusan .

Mereka merasa tenang dan tenteram menempuh jalan itu ketika berangkat dan kembali di duniaataupun diakhirat .Arahan dakwah kepada orang-orang yang beriman ini juga mengisyaratkan bahwa di sana terdapat jiwa-jiwa  (manusla) yang senantiasa memberontak dengan keragu-raguan untuk  melakukan ketaatan yang mutlak baik secara sembunyi maupun terang-terangan Ini adalah hal yang biasa terdapat di dalam kelompok masyarakat, di samping itu ada jiwa-jiwa yang tenang, percaya kepada Allah, dan ridha’ Ini adalah  seruan yang setiap waktu ditujukan kepada orang-orang yang beriman  agar mereka menjadi suci dan bersih, tulus dan ikhlas, dan sesuai getaran getaran jiwa dan arah perasaannya dengan apa yang dikehendaki Allah bagi mereka dan  juga agar sesuai dengan tuntutan nabi dan agama mereka  dengan tanpa keraguan dan kebimbangan serta kegamangan.  Ketika seorang muslim mematuhi ini dengan sebenar-benarnya berarti ia telah masuk ke alam kedamaian secara menyeluruh dan ke alam keselamatan secara total. Alam yang penuh kemantapan dan ketenangan, penuh keridhaan dan kemantapan  tidak ada kebingungan dan kegoncangan, tidak ada kelinglungan dan kesesatan.

Damai dengan segala yang ada dan segala yang maujud’. Kedamaian yang berseri-seri dalam lubuk hati. Kedamaian yang membayang-bayangi kehidupan dan masyarakat ” kesejahteraan dan keselamatan di bumi dan langit .Keselamatan dan kedamaian yang pertama kali melimpah ke dalam hati melimpah dari tashaawwur-nya yang benar terhadap Allah Tuharnya memancar dari keindahan  dan kelapangan tashawwurnya ini .Sesungguhnya, Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa yang kepada-Nya orang muslim menghadapkan arahnya dengan hati yang mantap. Maka jalannya kepada Nya tidak bercerai-berai, penghadapannya kepada Nva tidak berbilang (melainkan cuma satu) dan tidak diombang-ambingkan oleh tuhan ini dan tuhan itu ke sana ke mari sebagaimana ketuhanan berhala dalam jahiliah. Yang ada hanya satuTuhan tempat ia menghadap dengan penuh keyakinan dan kemantapan, dengan terang dan jelas. Dia ( Allah) adalah Tuhan  Yang Mahakuat, Mahakuasa dan Mahaperkasa , Apabila seorang muslim menghadap kepada-Nya berarti ia menghadap kepada kekuatan yang sebenarnya yang cuma satu-satunya di alam semesta ini. Ia merasa aman dari semua kekuatan palsu, merasa tenang dan tenteram.. Ia tidak merasa takut  kepada seseorang atau kepada sesuatupun. Ia hanya menyembah kepad.a Allah yang Mahakuat, Mahakuasa dan Mahaperkasa. Ia juga tidak  khawatir kehilangan sesuatu dan tidak  juga berambisi terhadap apa saja yang ada pada orang yang tidak berkuasa untuk mencegah atau memberi.

Dia adalah Tuhan Yang Mahaadil dan Mahabijaksana. Kekuatan dan kekuasaan-Nya merupakan jaminan dari kezaliman, hawa nafsu, dan merugikan hak orang lain. Ia tidak seperti tuhan-tuhan berhala dan kejahiliahan dengan bermacam-macam kemauan dan keinginannya. Dengan demikian, seorang muslim meninggalkan ketuhanan berhala dan berlindung kepada Allah, pilar yang kokoh, untuk mendapatkan keadilan, perlindungan, dan keamanan. Dia adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemberi nikrnat dan Pemberi karunia ,Pengampun dosa dan Penerima tobat yang mengabulkan permohonan doa orang yang memohon kepada-Nya dan menghilangkan duka deritanya. Maka, seorang muslim di bawah naungan Allah merasa aman dan tenang, merasa selamat dan berhasil, disayangi kalau lemah, dan diampuni kalau bertobat. Demikianlah seorang muslim menjalani kehidupannya bersama sifat sifat Tuhannya yang dikenalkan oleh Islam kepadanya. Maka’ pada setiap sifat-Nya dia menemukan sesuatu yang menenangkan hatinya dan menenteramkan jiwanya. Dia menemukan sesuatu yang menjamin perlindungan, pemeliharaan  kelemah lembutan, kasih sayang keperkasaan,ketahanan, kemantapan, dan keselamatan.

Begitulah Islam melimpahkan ke dalam hati orang muslim pandangan yang benar mengenai hubungan antara hamba dan Tuhan, antara Sang Pencipta dan alam semesta, serta antara alam semesta dan manusia . Maka Allah telah menciptakan alam ini dengan benar serta menciptakan segala sesuatu padanya dengan ukuran dan hikmah. Manusia diciptakan dengan bertujuan, tidak dibiarkan sia-sia telah disiapkan untuknya segala keadaan alam yang sesuai buatnya dan diciptakan pula segala sesuatu di bumi untuknya.  Manusia adalah makhluk yang mulia dalam pandangan Allah. Dia adalah khalifah-Nya di muka bumi. Allah senantiasa menolongnya dalam menjalankan kekalifahannya ini, sedang alam sekitarnya merupakan teman yang baik baginya, saling merespons antara ruhnya dan ruh semesta, ketika kedua-duanya menuju kepada Allah-Tuhan Semestaa Alam. Dia diseru kepada festival Ilahi yang diadakan di langit dan bumi ini agar dia senang dan gembira . Dia juga diseru untuk saling berlemah-lembut dan berkasih sayang dengan segala sesuatu dan segala makhluk hidup di alarm yang besar ini. Yakni, semua yang bersorak-sorai dengan teman-teman yang sama-sama diseru seperti dia untuk ikut dalam festival ini, dan sama-sama meramaikannya..

Akidah yang menghentikan pemiliknya di depan tumbuhan kecil ini dan membisikkan kepadanya bahwa dia akan mendapatkan pahala kalau mau menyiramnya ketika ia sedang haus, membantunya unfuk berkembang, dan menghilangkan semua gangguan dari jalannya, adalah akidah yang indah lebih dari sekadar akidah yang mulia. Akidah yang menuangkan kedamaian didalam ruhnya, yang membebaskannya untuk berpelukan mesra dengan seluruh alam semesta, menebarkan keamanan dan kelembutan di sekitarnya, kasih sayang dan keselamatan. Keyakinan akan adanya alam akhirat memiliki peranan yang pokok di dalam mencurahkan keselamatan dan kedamaian ke dalam ruh orang mukmin dan dunianya. Juga berperanan dalam menghilangkan kegundahan, kebencian, dan keputusasaan.

Sesungguhnya perhitungan terakhir bukan di dunia ini dan pembalasan yang sempurna bukan di alam kehidupan yang sementara ini. Karena sesungguhnya perhitungan terakhir ada di sana dan keadilan yang mutlak terkandung di dalam perhitungan ini. Maka ia tidak menyesal kalau melakukan kebaikan dan berjihad di jalan Allah, tetapi belum tampak hasilnya atau belum mendapatkan balasannya. Ia tidak sedih dan bimbang kalau belum mendapatkan balasan yang sempurna dibandingkan orang lain dalam kehidupan ini, karena dia akan mendapatkannya secara sempurna menurut timbangan Allah. Dia juga tidak berputus asa untuk mendapatkan keadilan apabila di dalam perjalanan hidup yang pendek ini tidak mendapatkan bagian yang diinginkannya. Karena keadilan itu pasti akan terwujud, sedang Allah tidak hendak berbuat zalim kepada hamba -hamba-Nya .Keyakinan adanya akhirat juga  menjadi penghalang baginya dari melakukan pertarungan gila-gilaan dan panas yang mengotori tata nilai dan segala sesuatu yang patut dihormati, dengan tidak merasa berat dan tidak merasa malu. Maka, di sana ada akhiral di sana juga ada karunia, kekayaan, dan penggantian terhadap segala sesuatu yang terlepas.

Pandangan yang demikian ini akan menimbulkan kedamaian dan keselamatan dalam lapangan perlombaan dan persaingan; tidak merasa paling baik daripada semua gerak-gerik orang yang ikut perlombaan; dan menganggap enteng semua perniagaan yang lepas dari perasaan bahwa safu-satunya kesempatan ialah usia yang pendek dan terbatas ini. Pengetahuan dan kesadaran seorang  mukmin adalah bahwa tujuan keberadaan manusia adalah ibadah karena ia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Hal ini akan mengangkat derajatnya ke cakrawala yang terang benderang, akan mengangkat perasaan dan hati nuraninya akan mengangkat aktivitas-aktivitas dan amalnya dan akan menyucikan semua jalan dan sarananya. Maka, ibadahlah yang ia kehendaki ketika sedang melakukan aktivitas dan amalannya, bekerja dan mengeluarkan belanja menjalankan tugas kekhalifahannya di muka bumi, dan merealisasikan berlakunya manhaj Allah padanya , pantaslah kalau dia tidak mau berbuat curang dan durhaka tidak mau mengicuh dan menipu, tidak mau berbuat aniaya dan sewenang-wenang, tidak mau menggunakan caracara yang kotor dan hina, tidak mau tergesa-gesa dalam menempuh tahapannya, tidak mau menempuh jalan pintas (menyimpang dari kebenaran), dan tidak mau mengendarai kesulitan dalam urusannya.

Dia sangat serius melakukan tujuan ibadahnya dengan niat yang ikhlas dan beramal serta bekerja secara konstan (terus menerus) dalam batas-batas kemampuannya. Dengan semua ini, tidaklah berkobar-kobar rasa takut dan ambisi di dalam jiwanya serta tidak bergoncang jiwanya dalam menempuh setiap tahapan dalam perjalanannya. Maka dia beribadah dalam setiap langkahnya, dia mewujudkan tujuan keberadaannya dalam setiap getaran pikirannya dan dia naik menuju Allah dalam setiap aktivitas serta dalam semua lapangannya. Perasaan seorang mukmin selalu berjalan bersama takdir Allah dan selalu melaksanakan ketaatan kepada Allah untuk mewujudkan apa yang diinginkan oleh Allah. Perasaan ini akan menuangkan kedalam ruhnya ketenteraman, kedamaian, dan kemantapan, serta penerang jalannya ” Sehingga mereka tidak bingung, tidak gundah, dan tidak marah-marah dalam menghadapi kendala hambatan, dan kesulitan serta mereka tidak putus asa dari pertolongan dan bantuan Allah, dan juga tidak khawatir akan salah tujuan atau tersia-sia balasannya.

Oleh karena itu, ia merasakan kedamaian didalam jiwanya sehingga ia rela berperang menghadapi musuh musuh Allah dan musuh-musuhnya. Sebab, ia berperang karenaAllah, dijalan Allah, dan untuk menjunjung tinggi agama Allah. Ia tidak berperang untuk mendapatkan kedudukan, harta rampasan, memenuhi ambisi, atau untuk mendapatkan kekayaan kehidupan dunia. Demikian pula perasaannya bahwa dia berjalan pada sunatullah bersama seluruh alam ini. Undang-undang alam adalah undang-undangnya iuga arah alam adalah arahnya juga” (arena itu, tidak berbentuan dan tidak bertentangan, dan tidak boleh mengeksploitasi alam dengan sewenang-vvenang. Seluruh kekuatan alam adalah untuk kekuatannya dengan cahaya yang mengarahkan dirinya. Kekuatan alam ini pun menuju kepada Allah bersamanya . Tugas-tugas yang diwajibkan oleh Islam kepada orang muslim semuanya bersumber dari fitah dan untuk meluruskan fitrah itu, tidak melampaui batas kemampuannya tidak acuh terhadap tabiat dan kejadian manusia tidak mengabaikan satupun potensi manusia dengan tidak membebaskannya untuk beramal, membangun, dan berkembang.  Taklif Islam juga tidak melupakan satu pun kebutuhan jasmani dan rohaninya. Tidak pula merajalelakannya dalam kemudahan, kebebasan, dan kelaparan.

Oleh karena itu, ia tidak bingung dan tidak gundah di dalam menghadapi tugas – tugasnya Ia mengembannya sesuai dengan kemampuannya dan ia berjalan di jalannya menuju kepada Allah dengan tenang, bahagia dan damai.  Masyarakat yang dibangun oleh manhaj Rabbani ini berada dalam naungan peraturan yang bersumber dari akidah yang bagus dan mulia ini Mereka berada di bawah jaminan –jaminan yang meliputi iiwa kehormatan, dan hartabenda .  Semuanya menebarkan keselamatan dan jiwa kedamaian.  Demikianlah masyarakat yang saling menyayangi dan saling mencintai, yang saling berhubungan dengan berjalin berkelindan, saling menjamin, dan saling setia Inilah tipe masyarakatyang hendak diwujudkan oleh Islam, dalam bentuknya yang palingtinggi dan paling bersih. Kemudian” diwujudkannya dalam aneka macam bentuk menurut masanya, dengan tingkat-tingkat kejernihan yang berbeda. Akan tetapi secara keseluruhan lebih baik daripada masyarakat lain yang dibentuk oleh kejahiliahan dalam masa lampau ataupun masa sekarang. Juga lebih baik dari semua masyarakat yang dilumuri oleh kejahiliahan ini dengan segala pandangan dan tatanan keduniawiannya. Inilah masyarakat yang diikat dengan unsur akidah yang meleburkan semua unsur kesukuan dan kebangsaan, bahasa dan warna kulit dan semua unsur baru yang tidak ada hubungannya dengan esensi manusia .

Gallery

Bruno Mars – The Lazy Song (Lyrik)

BRUNO MARS
“The Lazy Song”

To day i don’t feel like doing anything
I just wanna lay in my bed
Don’t feel like picking up my phone
So leave a message at the tone
Cause today I swear I’m not doing anything
I’m gonna kick my feet up
Then stare at the fan
Turn the TV on, throw my hand in my pants
Nobody’s gonna tell me I can’t
I’ll be lounging on the couch,
Just chillin in my snuggie
Click to MTV, so they can teach me how to dougie
‘Cause in my castle I’m the freaking man
Oh, oh
Yes I said it
I said it
I said it ’cause Ican
Today I don’t like doing anything
I just wanna lay in my bed
Don’t feel like picking up my phone
So leave a message at the tone
‘Cause today I swear I’m not doing anything
Nothing at all
Ooh, hoo, ooh,hoo, ooh, ooh-ooh
Nothing at all
Ooh, hoo, ooh,hoo, ooh, ooh-ooh
Tomorrow I’ll wake up, do some P90X
Meet a really nice girl, hve some really nice sex
And she’s gonna scream out: “This is great”
(Oh my God, this is great)
Yeah….
I migth mess around, get my college degree
I bet my old man will be so proud of me
But sorry pops, you’ll just have to wait
Oh, oh
Yes I said it
I said it
I said it ’cause I can
Today I don’t feel like doing anything
I just wanna lay in my bed
Don’t feel like picking up my phone
So leave message at the tone
‘Cause today I swear I’m not doing anything
No, I ain’t gonna comb my hair
‘Cause I ain’t going anywhere
No, no, no, no, no, no, no, no, no, no
I’ll just strut in my birthday suit
And let everything hang loose
yeah, yeah, yeah, yeah,
yeah, yeah, yeah, yeah,
yeah-eah, oh
Today I don’t feel like doing anything
I just wanna lay in my bed
Don’t feel like picking up my phone
So leave a message at the tone
‘Cause today I swear I’m not doing anything
Nothing at all
Nothing at all
Nothing at all